Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2014

Menulis : karenanya saya banyak mendapatkan fasilitas


            Menulis sudah mendarah daging dalam kehidupan saya. Semenjak salah satu guru sekolah dasar di sebuah kota kecil di jawa Timur mendaftarkan saya mengikuti lomba narasi, sejak itu pulalah saya mulai meraup rupiah dan berbagai macam bingkisan dari menulis. Saya memang bukan siapa-siapa. Saat itu saya hanyalah anak usia 11 tahun yang tak mengerti apa itu bernarasi. Yang saya ingat hanyalah saya bisa menjuarai lomba narasi dan pidato di usia masih sangat belia. Bercerita dan menulis sesuai tema dengan bantuan almarhum bapak yang memang seringkali berpidato dan mengajar di berbagai departemen di pemerintahan mengasah dan memupuk kecintaan saya pada dunia menulis. Hadiah berupa paket buku yang saat ini masih tersimpan dengan baik bahkan menjadi bacaan wajib anak semata wayang saya saat berkunjung ke rumah eyang serta sebuah hadiah sepeda mini dari sebuah media bacaan anak yang masih baik tersimpan menjadi sebuah kenangan awal mula saya menekuni dunia menulis.
            Kecintaan saya pada dunia menulis berawal dari seringnya memperhatikan almarhum eyang kakung dan almarhum bapak yang di waktu senggangnya dihabiskan untuk membaca buku. Sayapun berusaha ikut membaca buku-buku yang beliau baca meski saya masih duduk di kelas 3 SD. Buku-buku yang menurut saya saat ini sungguh berat untuk anak seusia saya saat itu yaitu : dibawah bendera revolusi selain bundelan komik donal bebek, biografi suharto, majalah si kuncung, ananda dan buku cerita yang seringkali saya pinjam dari perpustakaan. Kemampuan menceritakan kembali yang dituangkan kedalam tulisan (bahasa bekennya resume), akhirnya bertemu pasangan yang tepat karena Bu Iin yang kebetulan menjadi guru bidang bahasa Indonesia saat itu mengetahui bakat saya. Bakat yang saat itu  saya miliki diasah dengan mengikuti berbagai lomba mulai tingkat sekolah hingga provinsi di usia yang masih sangat belia.
            Bermimpi untuk bersalaman dengan ketua MPR saat masih duduk di kelas 5 SD akhirnya bisa terwujud karena saya pun bisa menjuarai lomba menulis surat kepada Presiden saat itu. Saya hanyalah si pemalu yang hanya sanggup percaya diri saat berada di perpustakaan atau bila sudah memegang mikrofon untuk lomba pidato. Perjalanan saya di dunia kepenulisan makin melesat saat almarhum ayah yang saat itu dipindah tugaskan ke surabaya. Letak sekolah yang dekat dengan kantor Pos besar, Pusat Distribusi majalah dan Surat Kabar serta toko buku meletupkan semangat baru untuk berkarya. Kemudahan akses membaca gratis di ketiga tempat tersebut mengantarkan saya menjuarai lomba narasi tingkat provinsi dan sayalah satu-satunya peserta termuda yang masih duduk di kelas 2 SMP. Penganugerahan penghargaan, hadiah oleh gubernur  di sebuah hotel bintang lima di kota surabaya hanyalah sebagian kecil anugerah yang saya dapatkan saat itu karena sayapun saat itu selain mendapatkan tabungan sebesar satu juta rupiah di tahun 1991, saya juga mendapatkan fasilitas magang sebagai jurnalis cilik di harian SURYA,
            Magang sebagai jurnalis cilik di harian SURYA yang akhirnya mengantarkan saya bisa berkarir selama delapan belas bulan di Harian Jawa Pos, penerbit surat kabar terbesar di Pulau Jawa hingga saat ini. Berkat prestasi saya selama bekerja sambil kuliah pula saya mendapatkan beasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Malang. Studi tak menghapus kecintaan saya pada hobi menulis yang pada akhirnya mengantar saya memimpin sebuah penerbitan Mahasiswa dan ektra kurikuler Karya Ilmiah Mahasiswa. Berkat menulis yang diasah dalam menerbitkan majalah, buletin serta mengikuti lomba karya ilmiah Mahasiswa yang mengantar saya menjadi Mahasiswa Teladan I dan berhak mendapatkah beasiswa penuh S2 dan hibah dana Penelitian serta kewirausahaan yang jumlahnya cukup besar saat itu. rasa syukur tak hanya terhenti disini saja karena pada akhirnya prestasi saya inilah yang mengantar saya untuk menjadi dosen tetap di sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di kota Malang, menjadi dosen luar biasa di 7 kampus swasta dan yang membuat saya bangga sayapun direkrut untuk menjadi konsultan sumber Daya Manusia di sebuah perusahaan besar di Indonesia semenjak tahun 1998. semua saya dapatkan karena prestasi menulis dan tentunya pengalaman bidang public relation yang lagi-lagi merupakan hasil dari kecintaan dari dunia menulis.
            Yah, Menulis telah mendarah daging pada kehidupan saya, bahkan putra pertama saya pun mulai mengikuti jejak saya melalui meresume isi buku ilmu pengetahuan atau buku cerita koleksi perpustakaan kami…lalu bagaimana dengan Anda? Menulis itu mengalir bagai aliran darah, bila kita berhenti mengalirkannya dengan mematikan kecintaan kita pada membaca, mengamati dan menganalisa maka jangan heran bila aliran tersebut akan mati.

Selasa, 07 Januari 2014

renungan dunia pendidikan

mengajar adalah pengabdian, bukan BISNIS. inilah bedanya bila saat menemui staf pengajar hanya dengan orientasi bisnis. kekayaan hati akan jauh lebih lapang bila mengajar dengan hati bukan karena uang. apakah bedanya? saat kita mengajar dengan hati maka materi apapun yang kita anggap bermanfaat untuk peserta didik akan kita cari dan bagikan tanpa harus embel-embel uang. namun bila mengajar hanya karena orientasi uang maka yang kita dapatkan hanyalah kesia-siaan. peserta didik tak akan cerdas karena semua juga bisa dibeli dengan uang. belajar fair pada diri sendiri bahwa profesi mengajar jangan dijadikan lahan bisnis. setiap individu memang butuh uang namun tak semuanya kita jadikan lahan bisnis karena lahan kebaikan kita dari mengajar akan jauh lebih berharga dari apapun satu saat nanti *edisigeregetanpendidikandiIndonesia*

Minggu, 29 Desember 2013

Berani mengungkapkan pendapat.


Budaya ewuh pakewuh yang ada di masyarakat kita cenderung mengebiri kemampuan seseorang untu mengemukakan pendapatnya. Saya sangat bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang sangat demokratis. Apa yang saya inginkan, apa yang ada di hati tidak perlu disimpan terlalu lama karena kedua orang tua membuka kesempatan agar ketiga putrinya mau untuk berpendapat.
            Besar di tengah keluarga yang demokratis, mendapat fasilitas pendidikan mulai SD hingga pascasarjana dan bekerja  yang memberikan kesempatan agar setiap individu berani mengemukakan pendapat rupanya baru saya rasakan manfaatnya. Ya, semenjak kurang lebih 7 tahun yang lalu menetap di kota Bandung yang lekat dengan budaya priangan, saya sedikit terkejut.
            Apa pasal? Saat kita punya keinginan, saat ada kemauan namun ternyata ada orang lain yang hendak “pantas” menerimanya maka kita harus diam dan tidak dianjurkan untuk protes. kondisi yang sangat sulit saya hadapi saat saya memiliki pendirian “jika Ya dijawab Ya jika Tidak maka jawab Tidak”.
            Tidak, memegang prinsip dan pendapat yang beralasan perlu dimiliki oleh setiap orang.menanamkan sikap seperti ini juga saya tanamkan pada si kecil.hingga pada saatnya tiba seperti saat ini, maka si kecil berani mengungkapkan apabila ia suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Jadi daripada menyiksa diri memendam uneg-uneg lebih baik ungkapkan saja.

Minggu, 22 Desember 2013

Ibu, cinta tiada batas




Ibu, aku tahu begitu besar cinta dan kasih sayangmu meski saat aku baru memiliki si kecil tak sedikitpun tanganmu menyentuh bayiku disaat aku masih dihantui rasa takut merawat bayi
Ibu, aku tahu begitu rindunya dirimu padaku setelah 7 tahun yang lalu kita harus terpisah jarak 1000 km sejak kumenikah
Ibu, aku tahu begitu dalamnya keinginanmu agar aku hadir di dekatmu bila Ibu menemui kesulitan.
Hari ini pun aku juga masih kebingungan, apa yang bisa keberikan pada Ibu untuk menunjukkan betapa besar pula cintaku pada Ibu.
Hanya doa agar Ibu senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin oleh Allah SWT, tetap menjadi Ibu yang tegar, setegar Ibu hampir 20 tahun berjuang sendiri mendidik kami ketiga putrinya sepeninggal almarhum Bapak


Ya Allah,
Berikan aku kekuatan untuk menjadi sosok Ibu yang penuh cinta dan kasih sayang bagi Fadhiil dan anak-anakku yang lain kelak.
Bunda sadar masih banyak memiliki kekurangan dalam memberikan perhatian kepada Fadhiil, namun mudah-mudahan kedepannya nanti, aku bisa seperti Ibu yang memberikan cintanya padaku tanpa syarat  dan batas apapun. I love U, Ibu, semoga Allah senantiasa memberimu kesehatan lahir batin, energi ekstra untuk tetap mendampingi ketiga putrimu, menantu dan cucu-cucu kelak. Aamiin

Rabu, 04 Desember 2013

tentang hari ini

Saat menempuh usia baru, rasanya masih ada yang kurang.
Tahun ini tak ada lagi yang menyapa dan mengucap selamat di waktu subuh
Tak ada lagi sapanya yang penuh cinta dan sangat saya rindukan
tanpa sadar saya masih menunggu suaranya di malam ini
bahkan suaranya meski lewat telepon untuk membangunkanku dan memberi selamat seharian ini terngiang terus
Entah energi dan ingatan ajaib seperti apa yang dimiliki eyang bude, saat semua jadwal ulang tahun saudara, anak dan cucu-cucunya yang tidak sedikit jumlahnya bisa beliau ingat.
Kalau biasanya beliau yang selalu memberi kado cinta sepenuh hati di setiap ulang tahun kita, maka yuk setiap kita berulang tahun, kewajiban kitalah memberi kado buat eyang bude berupa al fatihah yang jumlahnya juga spesial…miss U Eyang kangen banget sapamu..."Non, selamat ulang tahun ya sayang...sudahkah shalat subuh?" .I love U Eyang

Senin, 18 November 2013

Indahnya Persahabatan


 
            Kurang lebih sudah hampir tujuh tahun saya meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya sangat saya cintai. Pekerjaan yang membuat saya selalu berhubungan dengan banyak karyawan di suatu perusahaan  rokok terbesar di Indonesia yang bertempat di kawasan rungkut Surabaya. Sebagai salah satu tim HRD saya harus menghandel 2000an karyawan dari total 25000an karyawan dalam satu semester untuk dievaluasi.
            Bekerja dari pagi hingga pagi lagi adalah hal lumrah buat saya saat itu. lembur evaluasi tak akan dirasa lelah karena saya akan segera ijin jalan ke sebuah sudut pabrik yang disana terdapat kantin karyawan 24 jam. Tak ada perbedaan kasta bila tiba di kantin. Mau dikata ia outsourcing, staf HRD, atau Manager sekalipun semua diperlakukan sama. Saya juga tak pernah memilih posisi duduk saat makan atau hanya sekedar minum wedang ronde yang jadi favorit karyawan.
            Beberapa kali saat saya masih baru bekerja di perusahaan tersebut memang para pekerja sempat menjauh memberikan posisi tempat duduknya kepada saya. Maklumlah, seragam kami berbeda antara pekerja outsourcing dengan staf. Namun, hal tersebut membuat saya tak nyaman. Rasanya saat saya tiba di kantin seperti ngangon meri karena spontan mereka menjauh bersamaan. Hanya satu orang  yang berhasil saya ajak bicara pada awal mula pertemuan hingga akhirnya rata-rata pekerja mengenal saya. Mbak nasikhah, nama pekerja yang ternyata berhasil menjadi jembatan bagi saya dengan pekerja untuk berbincang lebih dekat lagi.
            Mbak nasikhah, dibalik diamnya ternyata ia memiliki banyak potensi. Selain sebagai pekerja outsourcing ia juga menerima jahitan dari teman sekerja atau tetangganya serta seringkali ikut membantu salah satu tetangganya merias hantaran pengantin. Belakangan saya tahu, ia menjadi single parent karena suaminya meninggal karena sakit. Ia berjuang sendiri menghidupi keempat anak buah cinta dengan almarhum suaminya. Persahabatan yang tak mengenal jarak usia antara mbak Nasikhah dan saya akhirnya sedikit merenggang saat saya mengundurkan diri sebagai staf HRD dan lebih fokus pada pekerjaan sebagai dosen yang saat itu sudah 8 tahun lebih dulu saya tekuni, hingga akhirnya saya mengikuti suami berdinas ke Bandung.
            Bandung-Surabaya memang sangat jauh, terakhir berbincang via telepon saat lebaran kemarin dengan kondisi mbak nasikhah yang masih sehat. Pagi ini saya mendapat kabar dari putri bungsunya bahwa mbak Nasikhah sudah kembali ke pangkuanNya. Kanker paru yang menjangkitinya selama dua tahun terakhir membuat ia akhirnya menyerah dan kembali pada yang Maha Memiliki.
            Satu hal kalimat mbak Nasikhah yang masih teringat saat terakhir berbincang via telepon, lebaran kemarin : “Nda, titip anak-anak kalau saya harus pulang duluan” . ia memang memanggil saya dengan sebutan Bunda semenjak saya mengabarkan bahwa saya telah memiliki jagoan bernama Fadhiil kurang lebih lima tahun yang lalu. kewajiban saya untuk tetap menjalin silaturahmi dengan anak-anaknya Insya Allah akan saya teruskan.

            Selamat jalan mbak Nasikhah. Terimakasih untuk sebuah jalinan persahabatan yang indah selama hampir 11 tahun. Semoga Allah melancarkan jalanmu sebesar cintamu kepada Nilam, Azwar, Yeni dan Aris.

Minggu, 17 November 2013

Sego Pecel. Santapan sehat di pagi hari yang slalu dirindukan



alun-alun Madiun yang rindang ; ; sumber wikipedia.com

Tinggal dan berkeliling Jawa hampir selama 29 tahun lamanya dengan berbagai tradisi di tiap daerah yang saya singgahi membuat saya ingin kembali pada memori beberapa puluh tahun yang lalu. Tinggal di Kota Madiun dengan penduduknya yang terkenal ramah, pasti akan selalu dirindukan oleh orang  yang pernah tinggal di sini. Kota Kecil  yang terletak 160 km sebelah Barat Kota surabaya. Di Kota ini terdapat pusat industri kereta api (INKA). Madiun dikenal memiliki Lapangan Terbang Iswahyudi, yakni salah satu pangkalan utama AURI, meski sebenarnya terletak di Kabupaten Magetan. Namunya satu hal yang mengingatkan saya pada kota Madiun adalah Sego pecel sebagai sarapan plus krupuk lempengnya yang bikin saya jatuh cinta hingga kini sebagai sarapan favorit di pagi hari.

krupuk lempeng pelengkap sego pecel

sego pecel pincuk yang menggoda
Pecel Pincuk Madiun, makanan yang tak hanya cocok disantap di pagi hari , namun bila kita mengunjungi kota madiun maka kita akan menemui penjual Sego Pecel berjualan mulai jam 6 pagi hingga tengah Malam (wahh…). Buat saya yang saat itu masih cukup kecil karena masih duduk di bangku SD maka kemanapun kedua orangtua saya berwisata kuliner Pecel, saya hanya ikut dan tentunya menikmati dengan memilih Pecel yang bercitarasa pedas menantang (penggemar pedas semenjak di bangku SD loh).
 Seingat saya Almarhum Bapak sering mengajak menyantap pecel di minggu Pagi hari atau Malam hari di warung-warung Pecel sepanjang jalan Cokroaminoto sebelah selatan, sekitar sleko.( indahnya bila mengingat saat itu…hmm). Nasi Pecel full sayur yang berisi tauge kecambah, kangkung dan bunga turi rebus disiram dengan bumbu kacang yang uenaknya tiada duanya  dengan pelengkap sepotong tempe goreng sebagai lauk pelengkap, serundeng dan krupuk lempeng atau rempeyek kacang yang Nyamleng pisan, Atau bahkan kita bisa menambah lauk empal, bakwan jagung, telur ceplok atau bahkan sate usus…(sehat kan…full sayuran)
Kemandirian saya semenjak kecil untuk berbelanja tak menyurutkan langkah saya apabila tiba-tiba ingin makan Pecel di sore hari sementara kedua orangtua saya belum tiba dari tempat bekerja. Kemanapun kita pergi di kota Madiun maka kita akan tetap bisa menemui penjual Sego/Nasi Pecel tentunya dengan kualitas yang berbeda dibandingkan dengan beberapa tempat yang telah saya sebutkan di atas. Hanya dengan mengendarai sepeda mini sendirian untuk anak seusia saya saat itu yang duduk di bangku SD,  seringkali menggowes sepeda untuk berburu nasi Pecel di Pasar Joyo yang letaknya di belakang komplek atau menggowes lebih jauh untuk mendapatkan sepincuk nasi pecel di sekitar pasar burung jalan pelitatama (bener ya..)..ah indahnya mengingat masa-masa itu.
6 tahun yang mengesankan tinggal di kota Madiun, kota yang sangat ramah dan menyimpan banyak kenangan semasa kecil, kota yang telah menabur bibit kebaikan tentang kekeluargaan dan gotong royong…kapan ya pergi kesana lagi?

Kamis, 14 November 2013

barang titipan..


sudah sejak tahun 1990 alhamdulillah saya diberi kesempatan mengendarai mobil *tapi tetap dalam pengawasan supir pribadi dan itupun hanya di dalam komplek*. nah di tahun 1994, duka menyelimuti keluarga saya yang otomatis juga mencabut hak-hak istimewa almarhum bapak semasa menjabat di pemerintahan. mau tidak mau tanggung jawab untuk tetap bersama, merawat peninggalan almarhum Bapak sebagian jatuh ke tangan saya termasuk merawat kendaraan-kendaraan peninggalan beliau. kesempatan bisa mengendarai mobil di usia masih di bawah 18 tahun terbuka lebar.*jangan ditiru ya karena ini terpaksa dilakukan karena tidak ada siapapun saat itu yang bisa bertanggung jawab atas peninggalan almarhum Bapak*. 

meski awalnya harus merasakan panas dingin bila hendak mengendara mobil namun akhirnya  lintas jawa berhasil dilibas, hingga akhirnya sayapun jatuh cinta pada mobil terakhir yang dibeli almarhum bapak 14 hari sebelum meninggal. inilah mobil yang hingga kini menemani saya pergi bahkan dibawa saat suami memboyong saya ke bandung. mungkin buat orang lain memang tak berharga. kata putra pertamaku saja "mobil Bunda Jadul". tak apa karena saya sudah terlanjur cinta bangettt karena setiap melihat mobil jadul ini saya selalu teringat almarhum bapak sesaat sebelum meninggal.
banyak kenangan yang tersimpan saat melihat mobil peninggalan Bapak. Ingatan itu kembali ke 19 tahun yang lalu, jelang nafas terakhirnya almarhum bapak sengaja duduk berlama-lama di bagian depan mobil, sempat berkeliling komplek berdua denganku dan mobil inilah yang terakhir kali beliau tumpangi sebelum koma menghampiri hingga Allah SWT mengambilnya.*sesak terasa di dada*

hari ini saya menjadi sangat terluka karena apa yang saya jaga selama ini jadi cacat gara2 kecerobohan supir truck yang menabrak bagian depan mobil hingga lampunya pecah berkeping-keping....
jam terbang tinggi, patuh aturan lalu lintas, kehati-hatian di jalanan tak menjamin kita luput dari bahaya
maafkan aku ya Bapak.......*sediiiih banget*


menjaga amanah , menjaga kepercayaan itu sangat sulit apalagi dengan orang yang kita cintai dan sudah tiada. namun kembali pada Allah SWT bahwa semua harta adalah titipan. meski demikian nilai barang tersebut tak bisa ditukar dengan apapun karena almarhum Bapak memberikannya dengan penuh cinta. I love Bapak

Senin, 14 Oktober 2013

Bersyukur tak berkesudahan


Hari ini saya dilarutkan dengan kisah Pernikahan mbak Putri Herlina yang luar biasa dan Mas reza yang berhati lapang. Sungguh rasa syukur ini tak henti terucap dari hatiku saat ini. Aku makin merasa semakin kecil di dunia ini. Allah memang menganugerahkan segala sesuatunya sesuai dengan kebutuhan manusia. Kelapangan hati Reza dan keluarga besarnya menerima Putri Herlina, wanita tak bertangan yang berprestasi, bukanlah hal yang mudah. Namun Sang Pembolak Balik Hati telah menggariskan bahwa Reza-lah pangeran untuk Putri Herlina.
Pernikahan mereka memberi sedikit lecutan bagiku bahwa segala sesuatunya hanyalah kepadaNya kita kembalikan karena Ia-lah sang pemilik segalanya. Malu rasanya saat terkadang hati ini mengeluh dengan apa yang terjadi pada beberapa tahapan kehidupan yang sedang saya jalani. Bukankah semua itu untuk menempa hati kita agar tetap bisa berjuang dengan kondisi kehidupan yang dihadapi?
Dari kacamata diri rasanya memang masih ada yang kurang, namun teringat dengan apa yang dikatakan teman sejawat di kampus bahwa kehidupanku sungguh penuh makna. Sekolah dan kuliah tanpa hambatan bahkan beasiswa ada di tangan, karir yang berada di genggaman, pertemuan dengan pasangan hidup yang penuh liku namun sangat berarti,  fadhiil, putra pertama sebagai pelengkap kebahagiaan pernikahanku dan keluarga besar yang benar-benar mensupport dengan apa yang kujalani adalah hal yang patut disyukuri. Namun aku hanyalah manusia yang kadang diliputi ketidak puasan. Hanya dengan rasa syukur yang tak berkesudahan-lah yang seharusnya menjadi pengingat bahwa Allah pemilik segala sesuatu.
So, introspeksi diri terhadap keluhan yang seringkali muncul dalam rona kehidupanku. Jalan tol saja masih ada sisi-sisi yang tak mulus, maka demikian pula dengan kehidupan. Hanya dengan rasa syukur saja maka kita akan lebih memaknai hidup. Semangat!!

Jumat, 04 Oktober 2013

ketika ketulusan dipertanyakan


Menjadi seseorang yang selalu ingin menyenangkan dan menolong orang lain tentunya adalah salah satu hal yang dirindukan oleh (mungkin) semua manusia didunia ini. Namun apa yang akan anda lakukan dan hadapi saat usaha anda menyenangkan dan menolong orang lain ini ternyata mendapatkan ganjalan  ghibah yang akhirnya mengarah pada fitnah karena mungkin ketulusan anda tidak disukai oleh beberapa orang? Ketulusan anda dianggap hanyalah sebagai upaya mencari muka kepada orang lain. Ketulusan menyenangkan dan menolong dari anda dianggap hanyalah kepura-puraan?
Ketulusan memang tidak akan bisa dipaksakan karena semuanya berasal dari lubuk hati yang paling dalam. hanya dengan berusaha menanamkan spirit dalam diri bahwa kebaikan akan bisa menghanguskan segala kedengkian orang lain.
Mencetak karya dan prestasi yang bernilai serta membanggakan adalah obat mujarab untuk melawan usaha buruk dari pihak-pihak yang ingin menjatuhkan….
Yang penting tetap semangat, tersenyum dan membantu dengan ketulusan hati (jangan ada pamrih!)

Sabtu, 24 Agustus 2013

Sekam dan Abu

membiarkannya seperti memelihara api dalam sekam
bila sudah terlanjur menyala dan ingin mematikannnya
maka yang kamu dapati hanyalah sekam yang berubah menjadi abu
lalu apakah akan terus membiarkan bara tersebut?
apakah menunggu semua sekam menjadi abu?
abu tetaplah menjadi abu yang tak akan kembali menjadi sekam kembali

lebih baik menghentikan baranya meski ada abu yang telah menodai kebersihan sekam

jangan biarkan bara tersebut menyala kembali , selalu melihat abu sisa pembakaran sebagai cermin agar bara tak menyala kembali

Senin, 01 Juli 2013

renungan untuk Hati


Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan kau alami atau bertemu dengan orang yang egois, pendendam, menjengkelkan dan memiliki sikap yang seringkali tidak menyenangkan. 

Ketahuilah bahwa engkau sedang dilatih membersihkan hati dan jiwa, berlatih menjadi orang yang sabar dan tentunya menjaga sikap agar tidak berperilaku sepertinya. 

Allah sedang mengantarmu bertemu dengan orang yang menyenangkan hatimu namun harus melalui hal ini : bertemu orang yang menjengkelkan. 

Bersabarlah karena saatnya akan tiba dengan indah bagi orang-orang yang tulus dan mau jujur pada diri dan orang lain

Rabu, 19 Juni 2013

Tak hanya TES namun Perlu Kursus Tertib Lalu Lintas

"Tiiiiiiiin"
mau tidak mau saya harus membunyikan klakson dengan nada yang agak panjang. beberapa tahun terakhir ini sejak motor matic memasuki Indonesia, saya merasakan tingkat strees di jalanan makin tinggi. kendaraan roda empat yang saya kendarai hampir selalu dikepung kendaraan roda dua. di kanan, kiri, depan , dan belakang sehingga seringkali menyulitkan saya untuk berjalan dan cenderung membahayakan bagi pengendara roda dua. belum lagi bila bertemu dengan raja jalanan di kota Bandung : ANGKOT. Wah makin pusing dan emosi memuncak. untuk saya yang sudah hampir 20 tahun biasa mengendarai mobil di jalanan sudah cukup kewalahan dengan tingkah pengguna jalan yang makin menggila saat ini lalu bagaimana bagi para pengendara motor yang notabene masih baru mengenal dunia jalanan?
apabila menginjakkan kaki di kota bandung dan mengendarai kendaraan bermotor maka kita dapat memperhatikan banyaknya pengendara roda dua, bahkan roda empat yang seringkali melanggar marka jalan sehingga meningkatkan angka kecelakaan di kota Bandung. inilah dampak dari kurang ketatnya persyaratan pemilikan SIM oleh pihak Kepolisian. mengurus SIM cukup dengan calo, tinggal foto, terima SIM, lalu siap meluncur di jalanan. bahkan mungkin banyak para pengendara kendaraan bermotor tak memiliki SIM.
bukankah ada Tes sebelum permohonan pemilikan SIM?
Ah itu kan hanya formalitas. manusia itu tidak butuh tes namun pemahaman dan kesadaran berlalu lintas yang benar-benar sesuai dengan undang-undang. toh undang-undang tersebut dibuat untuk keamanan berlalu lintas. rasanya perlu semacam kursus pemahaman rambu lalu lintas dan etika berlalu lintas agar kesadaran menaati peraturan lalu lintas semakin membaik dan itu wajib bagi semua pemohon SIM. memang butuh proses namun bukankah untuk menuju kepada sebuah kemajuan pasti melewati proses yang tidak mudah.
siapa yang mengadakannya? tentunya bukan lembaga kepolisian ya! ada baiknya kursus semacam ini dikelola oleh lembaga pendidikan formal dengan materi yang diperoleh dari lembaga kepolisian. mengapa? kepercayaan masyarakat terhadap POLISI sudah pupus, lagipula ini untuk mencegah kongkalikong pemohon SIM dengan POLISI sebagaimana yang terjadi di masyarakat selama ini.
yah ....ini hanya wacana. namun inilah suara hati saya yang stress dengan jalanan bandung yang dipenuhi pengguna jalan yang tidak tertib berlalu lintas .

Selasa, 11 Juni 2013

Renungan

kadangkala kita seringkali dilanda "lupa" bersikap?
pernahkah terfikir di benak anda,apa yg anda rasakan, apa yg anda pikirkan saat tak lagi memiliki salah satu orang tua?
berempati......hal yg seringkali dilupakan,diabaikan
namun inilah yg mudah2an mungkin bisa membuatku jauh lebih memilih berbagi pada mereka yg kehilangan orang tua, karena mereka pastipun merasakan sedih saat :
tak ada lagi yg mengimami shalat dirumah
tak ada lagi pelukan hangat dari yg kita cintai
tak ada lagi yang mendampingi disaat dilanda kesedihan
tak lengkap lagi saat kita hendak berbagi kebahagiaan,

namun diluar itu semua , satu hal yg harus kita pelihara...berempati thd org lain...
miss u bapak
terimakasih untuk banyak hal berharga yg kautanam padaku semasa hidupmu.aku hanya bisa membalas dengan doa.

kenangan : ikut lomba gigi sehat semasa SD

pertama kali ikut lomba, pastinya grogi apalagi lomba gigi sehat. masih segar di ingatan semasa duduk di bangku SD dengan bangga saya mengikuti lomba gigi sehat mulai dari tingkat kelurahan , kecamatan hingga kotamadya dan selalu juara I (norak ya?)
kalau dipikir dan diingat kembali saya hanya tersenyum-senyum sendiri. yah bocah usia 11 tahun mengikuti lomba gigi sehat plus harus presentasi mengapa saya layak ikut lomba, mulut dan gigi diperiksa, praktek sikat gigi dan yang paling menggelikan harus tersenyum dengan memperlihatkan gigi yang sehat.
bosan, lelah karena harus menjalani proses yang hampir sama sejak mulai seleksi dii tingkat kelurahan. hadiahnya ? mungkin buat orang lain tak ada gunanya, namun hadiah yang kudapat sejak mengikuti lomba gigi sehat di tingkat kelurahan adalah buku-buku bacaan yang harganya tidak murah plus sikat gigi dan pasta gigi yang jumlahnya banyakkkk sekali sampai-sampai teman-teman bermainpun kebagian sikat gigi dan pasta bingkisan dari lomba gigi sehat. apa resepnya sih? nenek seringkali memberiku sejumput daun sirih untuk dikunyah. menangis tentunya adalah ritual saat mengunyah sirih. namun ada hikmahnya. gigiku saat itu bisa memberi sedikit hadiah bagi orang lain meski hanya berupa sikat gigi dan pastanya (he he)

bersambung saja ya....

CURHAT TENTANG PELAYANAN SIM DI INDONESIA (Jadi Pelajaran Berharga)


Alhamdulillah hingga hari ini tidak pernah (jangan!) berurusan dengan polisi di jalan hanya gara-gara SIM atau STNK.
Hmmm…tahun berlakunya SIM yang saya miliki saat ini hanya tinggal dua tahun lagi dan mau tidak mau harus mengurus surat pindah berkas. Kira-kira susah nggak ya mengurus surat pindah berkas SIM dari kota Malang ke Bandung tempat saya berdomisili saat ini.
Yah mengurus SIM yang prosesnya berbelit mengingatkan saya pada peristiwa tahun 2005. Kalau saja saya bukan seseorang yang mau belajar tentang hukum dan perundangan tentunya habislah dibohongi oleh “oknum” polisi di polresta Malang. Masih teringat saat itu SIM saya mati  sehari. Bukan sengaja terlambat mengurus perpanjangan SIM  namun karena kesibukan dan akhirnya saya harus bedrest dalam waktu yang cukup lama akhirnya SIM A dan C saya mati bersamaan. hanya mati sehari. Takut? Tidak, karena saat itu saya memang tidak mengendarai kendaraan bermotor dan menurut undang-undang lalu lintas tahun 1992  disebutkan bahwa SIM yang mati kurang dari setahun dapat diperpanjang tanpa melalui proses ujian praktek.
Nah ini masalahnya. Mulai dari loket pertama saya sudah didekati calo. Calo tak berhasil merayu saya, ia masuk ke dalam loket yang dijaga oleh dua orang oknum polisi. Beliau beliau mengatakan bahwa biaya pengurusan SIM A dan C saya keduanya memakan biaya 450 ribuan. Duh…kok besar sekali padahal biaya formulir  yang tertera di loket hanya 85 ribu untuk SIM A dan 65 ribu untuk SIM C (kalau tidak salah dikisaran angka tersebut). Dengan wajah innocent saya bertanya pada ‘oknum” polisi : ‘kok tidak sama dengan yang tertera di loket Pak”. Dan beliau menjawab “kalau mau bayar kalau tidak ya tidak usah mengurus, yang tertera di loket ini sudah kadaluarsa” Wah..wah ini nggak bener nih. Segera saat itu saya telepon salah satu kolega ayah saya yang kebetulan bekerja di kantor yang sama. Ternyata biaya resmi yang dikenakan adalah benar yang tertera di depan loket..wah makin panas hati saya apalagi kedua oknum polisi plus calo di belakangnya tetap ngotot dengan harga awal, kemudian turun pada angka 300 dan akhirnya stag di angka 175 ribu.(ha ha baru kali ini saya menemui pengurusan SIM di lembaga pemerintah pakai acara tawar menawar). Saya mengiyakan untuk menjebak. Mengapa? Karena saya melihat ada beberapa pengurus perpanjangan SIM mendapatkan kuitansi yang berbeda. Bagaimana triknya ? saya meminta dituliskan angka nominal pengurusan kedua jenis SIM pada kuitansi resmi, namun kedua oknum polisi tersebut tetap kukuh tidak mau berniat memberikan kuitansi resmi tersebut. Alhasil saya meninggikan suara saya setengah mengancam akan melaporkan pada atasan dan mempublikasi ke surat kabar. Hasilnya ? saya hanya membayar 150 ribu sesuai tarif resmi.
            Apakah terhenti di loket pertama praktek pungli tersebut? Tidak! Pada saat pengurusan pengambilan  sidik jari saya masih diminta lagi membayar sebesar 30 ribu. Apakah saya membayar? Tidak! Jurus meminta bukti pembayaran resmi menjadi jurus ampuh melawan pungli-ber (kalau ada yang menggunakan hijab disebut hijaber, para penarik pungli juga pantas disebut pungliber ya? ). Keberanian saya saat itu berbuah pada tertundanya pemanggilan nama saya untuk foto berkas SIM yang baru. Saya ingat betul hari  itu hari jum’at, saya tiba di polresta Malang bagian SIM tepat pukul 8 dan memasukkan berkas pukul 9 namun hingga pukul 11 nama saya tak juga dipanggil, sedangkan yang tiba pukul 10 hanya menunggu setengah jam, maka SIM sudah ditangan. Rasanya darah sudah sampai diubun-ubun apalagi setelah saya beranikan saya tanya ke loket, ternyata saya harus ujian tulis dan praktek….huaaahhhhhh makin marahlah saya.
            Sebagai dosen di fakultas hukum saat itu saya sudah mempersiapkan diri. Kebetulan hari itu saya membawa berkas undang-undang lalu lintas beserta fotokopinya. Saya beranikan tegas pada oknum bahwa saya tak perlu mengikuti ujian apapun karena menurut undang-undang lalu lintas yang berlaku saat itu, apabila SIM mati tidak sampai satu tahun maka pemohon tidak perlu mengikuti ujian. Tiga oknum yang saya tengarai mempermainkan pemohon pucat pasi saat saya menyerahkan fotokopi undang-undang yang menjelaskan hal di atas. Dan…..akhirnya saya dipersilahkan foto.
Namun lagi-lagi saya dipermainkan. Seusai foto SIM dikatakan bahwa saya tidak bisa langsung membawa hasilnya alias menunggu satu minggu. Waah tidakkkk saya kan tidak akan bisa pergi kemana-mana tanpa SIM. Jurus terakhir adalah menelepon kembali kolega ayah yang juga menjadi polisi di kantor yang sama. Hasilnya? Saya bisa membawa kedua SIM A dan C pulang meski dengan tanggal SIM yang sengaja dipermainkan sehingga tidak terhitung berlaku 5 tahun namun hanya 4,5 tahun. Oknum oh oknum…kalau saja pemohon tidak sadar hukum mungkin akan membayar mahal untuk sebuah SIM. Padahal mereka telah digaji oleh rakyat untuk melayani, namun mengapa jadinya begini?
Kejadian ini akhirnya saya angkat ke surat pembaca sebuah surat kabar besar di Jawa Timur. Hasilnya alhamdulillah 5 tahun kemudian saat saya mengurus perpanjangan SIM untuk kesekian kalinya tidak ada pungli-punglian. Yah, mudah-mudahan saat nanti saya mengurus pindah berkas SIM dari malang ke Bandung tidak akan menemui kesulitan lagi. Ingat Pak Polisi, anda digaji rakyat untuk melayani bukan untuk mengintimidasi dan membodohi rakyat ya.

Kamis, 06 Juni 2013

haruskah ada pelajaran untuk menjadi tersadar?

sulit mengajaknya untuk menyelami hati seseorang yang telah beberapa kali kehilangan orang2 tercinta....apakah harus menunggu ia kehilangan seseorang untuk menjadi tersadar.
apakah harus merasakan untuk menyelami hati seseorang yang terluka tanpa ada seseorang disisinya...
ia hanyalah bagai layang2 tanpa kerangka.melayang mengikuti arah angin karena tak mampu lagi untuk menopangnya.
ia harus berucap pada siapa?saat langkah telah terseok namun hanyalah tatapan nanar tanpa berusaha untuk menjadi kerangkanya...hanya menunggu .....entah hingga kapan

Rabu, 10 April 2013

wanita di balik kemudi. siapa takut? ( 1)

Mengemudi seringkali diidentikkan milik pria, meski saat ini sudah cukup banyak wanita yang cukup mumpuni untuk mengendalikan kemudi. meski demikian tak jarang bila dijalanan para pengemudi yang berjenis kelamin wanita sering diumpat "dasar perempuan tak bisa menyetir'
lalu bagaimana agar anda yang telah memiliki keahlian mengemudi tak mendapatkan umpatan ini, yah selain itu tentunya anda juga mendapatkan keamanan menyetir di jalanan.
apa sih resepnya?
yang pasti anda harus tahu jalan karena dengan mengetahui medan yang akan dilewati maka rasa percaya diri akan tumbuh
yang kedua anda harus ngeh, mengerti dan faham rambu-rambu lalu lintas. hal yang sangat sepele seringkali di abaikan misalnya masalah marka jalan. apa bedanya garis marka jalan yang putus-putus dan tidak terputus. wah jangankan wanita, pria pun banyak yang tidak mengerti atau bahkan mengerti namun tidak memiliki kesadaran diri untuk patuh pada aturan. jangan sampai hanya karena anda tidak mengenali rambu kemudian dengan seenaknya saja parkir dibawah rambu S coret. wah, bisa-bisa tak hanya umpatan pengemudi lain yang anda dapatkan, namun anda akan mendapatkan tanda cinta dari polisi berupa lembaran kuning yang harus ditebus di pengadilan. riweuh jadinya...
tak hanya harus faham peraturan lalu lintas, batas kecepatan, safety belt, namun juga perlunya kenyamanan berkemudi karena hal ini akan beroengaruh pada konsentrasi pengemudi dalam mengendara kendaraan. bagaimana menciptakan kenyamanan?
tentunya mobil harus bersih
perangkat penunjang seperti klakson, wiper, spion dan kendaraan dapat berjalan dengan baik. hal ini tentunya harus ditunjang dengan kondisi mesin dan perangkat pendukung kendaraan berjalan dengan baik pula.
mari kita kenali kendaraan anda :
Oli :
cek berkala oli mesin untuk mengetahui ketersediaan oli yang berguna dalam pelumasan mesin. nila berkurang tambahkan oli, dan ganti oli berkala karena oli yanng sudah 'tua' tentunya akan mempengaruhi kinerja mesin
air radiator
cek seminggu sekali jumlah/ketersediaan air radiator, karena bila air radiator habis maka mesin akan menjadi panas dan macet
Wiper
hal yang sangat sepele untuk memikirkan barang satu ini namun akan sangat rugi apabila kondisi wiper buru sedangkan hujan sangat deras, maka dapat dipastikan anda akan kesulitan melihat kondisi jalan di depan anda (jarak pandang terbatas)
Lampu
cek berkala kondisi lampu, untuk berjaga apabila anda melakukan perjalanan di malam hari. bila perlu sediakan bohlam serep untuk berjaga-jaga lampu mati
Aki
seminggu sekali cek kondisi aku dan air aki apabila anda menggunakan aki basah. kerugian dari kerusakan aki , maka anda tidak akan dapat menjalankan kendaraan karena tenaga yang menyuplai kendaraan bermotor hanya berasal dari aki.

bersambung....