Selasa, 11 Juni 2013

CURHAT TENTANG PELAYANAN SIM DI INDONESIA (Jadi Pelajaran Berharga)


Alhamdulillah hingga hari ini tidak pernah (jangan!) berurusan dengan polisi di jalan hanya gara-gara SIM atau STNK.
Hmmm…tahun berlakunya SIM yang saya miliki saat ini hanya tinggal dua tahun lagi dan mau tidak mau harus mengurus surat pindah berkas. Kira-kira susah nggak ya mengurus surat pindah berkas SIM dari kota Malang ke Bandung tempat saya berdomisili saat ini.
Yah mengurus SIM yang prosesnya berbelit mengingatkan saya pada peristiwa tahun 2005. Kalau saja saya bukan seseorang yang mau belajar tentang hukum dan perundangan tentunya habislah dibohongi oleh “oknum” polisi di polresta Malang. Masih teringat saat itu SIM saya mati  sehari. Bukan sengaja terlambat mengurus perpanjangan SIM  namun karena kesibukan dan akhirnya saya harus bedrest dalam waktu yang cukup lama akhirnya SIM A dan C saya mati bersamaan. hanya mati sehari. Takut? Tidak, karena saat itu saya memang tidak mengendarai kendaraan bermotor dan menurut undang-undang lalu lintas tahun 1992  disebutkan bahwa SIM yang mati kurang dari setahun dapat diperpanjang tanpa melalui proses ujian praktek.
Nah ini masalahnya. Mulai dari loket pertama saya sudah didekati calo. Calo tak berhasil merayu saya, ia masuk ke dalam loket yang dijaga oleh dua orang oknum polisi. Beliau beliau mengatakan bahwa biaya pengurusan SIM A dan C saya keduanya memakan biaya 450 ribuan. Duh…kok besar sekali padahal biaya formulir  yang tertera di loket hanya 85 ribu untuk SIM A dan 65 ribu untuk SIM C (kalau tidak salah dikisaran angka tersebut). Dengan wajah innocent saya bertanya pada ‘oknum” polisi : ‘kok tidak sama dengan yang tertera di loket Pak”. Dan beliau menjawab “kalau mau bayar kalau tidak ya tidak usah mengurus, yang tertera di loket ini sudah kadaluarsa” Wah..wah ini nggak bener nih. Segera saat itu saya telepon salah satu kolega ayah saya yang kebetulan bekerja di kantor yang sama. Ternyata biaya resmi yang dikenakan adalah benar yang tertera di depan loket..wah makin panas hati saya apalagi kedua oknum polisi plus calo di belakangnya tetap ngotot dengan harga awal, kemudian turun pada angka 300 dan akhirnya stag di angka 175 ribu.(ha ha baru kali ini saya menemui pengurusan SIM di lembaga pemerintah pakai acara tawar menawar). Saya mengiyakan untuk menjebak. Mengapa? Karena saya melihat ada beberapa pengurus perpanjangan SIM mendapatkan kuitansi yang berbeda. Bagaimana triknya ? saya meminta dituliskan angka nominal pengurusan kedua jenis SIM pada kuitansi resmi, namun kedua oknum polisi tersebut tetap kukuh tidak mau berniat memberikan kuitansi resmi tersebut. Alhasil saya meninggikan suara saya setengah mengancam akan melaporkan pada atasan dan mempublikasi ke surat kabar. Hasilnya ? saya hanya membayar 150 ribu sesuai tarif resmi.
            Apakah terhenti di loket pertama praktek pungli tersebut? Tidak! Pada saat pengurusan pengambilan  sidik jari saya masih diminta lagi membayar sebesar 30 ribu. Apakah saya membayar? Tidak! Jurus meminta bukti pembayaran resmi menjadi jurus ampuh melawan pungli-ber (kalau ada yang menggunakan hijab disebut hijaber, para penarik pungli juga pantas disebut pungliber ya? ). Keberanian saya saat itu berbuah pada tertundanya pemanggilan nama saya untuk foto berkas SIM yang baru. Saya ingat betul hari  itu hari jum’at, saya tiba di polresta Malang bagian SIM tepat pukul 8 dan memasukkan berkas pukul 9 namun hingga pukul 11 nama saya tak juga dipanggil, sedangkan yang tiba pukul 10 hanya menunggu setengah jam, maka SIM sudah ditangan. Rasanya darah sudah sampai diubun-ubun apalagi setelah saya beranikan saya tanya ke loket, ternyata saya harus ujian tulis dan praktek….huaaahhhhhh makin marahlah saya.
            Sebagai dosen di fakultas hukum saat itu saya sudah mempersiapkan diri. Kebetulan hari itu saya membawa berkas undang-undang lalu lintas beserta fotokopinya. Saya beranikan tegas pada oknum bahwa saya tak perlu mengikuti ujian apapun karena menurut undang-undang lalu lintas yang berlaku saat itu, apabila SIM mati tidak sampai satu tahun maka pemohon tidak perlu mengikuti ujian. Tiga oknum yang saya tengarai mempermainkan pemohon pucat pasi saat saya menyerahkan fotokopi undang-undang yang menjelaskan hal di atas. Dan…..akhirnya saya dipersilahkan foto.
Namun lagi-lagi saya dipermainkan. Seusai foto SIM dikatakan bahwa saya tidak bisa langsung membawa hasilnya alias menunggu satu minggu. Waah tidakkkk saya kan tidak akan bisa pergi kemana-mana tanpa SIM. Jurus terakhir adalah menelepon kembali kolega ayah yang juga menjadi polisi di kantor yang sama. Hasilnya? Saya bisa membawa kedua SIM A dan C pulang meski dengan tanggal SIM yang sengaja dipermainkan sehingga tidak terhitung berlaku 5 tahun namun hanya 4,5 tahun. Oknum oh oknum…kalau saja pemohon tidak sadar hukum mungkin akan membayar mahal untuk sebuah SIM. Padahal mereka telah digaji oleh rakyat untuk melayani, namun mengapa jadinya begini?
Kejadian ini akhirnya saya angkat ke surat pembaca sebuah surat kabar besar di Jawa Timur. Hasilnya alhamdulillah 5 tahun kemudian saat saya mengurus perpanjangan SIM untuk kesekian kalinya tidak ada pungli-punglian. Yah, mudah-mudahan saat nanti saya mengurus pindah berkas SIM dari malang ke Bandung tidak akan menemui kesulitan lagi. Ingat Pak Polisi, anda digaji rakyat untuk melayani bukan untuk mengintimidasi dan membodohi rakyat ya.

Kamis, 06 Juni 2013

haruskah ada pelajaran untuk menjadi tersadar?

sulit mengajaknya untuk menyelami hati seseorang yang telah beberapa kali kehilangan orang2 tercinta....apakah harus menunggu ia kehilangan seseorang untuk menjadi tersadar.
apakah harus merasakan untuk menyelami hati seseorang yang terluka tanpa ada seseorang disisinya...
ia hanyalah bagai layang2 tanpa kerangka.melayang mengikuti arah angin karena tak mampu lagi untuk menopangnya.
ia harus berucap pada siapa?saat langkah telah terseok namun hanyalah tatapan nanar tanpa berusaha untuk menjadi kerangkanya...hanya menunggu .....entah hingga kapan

sulitnya menjadi ibu *namun bahagia jadi imbalannya*

tak pernah terbayang sebelumnya setelah menikah aku langsung hamil, melahirkan, merawat anak tanpa didampingi ibu yang selama ini aku lihat begitu kuat, tak pernah memperlihatkan kesulitannya saat membesarkan,mendidik kita bertiga sebagai single parent di usia sangat muda "36"...cintanya pada almarhum bapak membuatnya begitu kuatnya menghadapi berbagai cobaan saat itu. deraan ekonomi yang menimpa kita sekeluarga tak pernah diperlihatkan...."tapi aku tahu itu Bu"

sekarang di usiamu yang tak lagi muda, di saat aku hamil, melahirkan hingga merawat fadhiil sedikitpun tak tersentuh tangan lembut ibu. tapi aku mengerti Bu...tanggung jawabmu begitu besar terhadap kedua adikku....namun dengan begini aku jadi mengerti begitu penuh perjuangan saat membesarkan kami bertiga yang notabene semua perempuan. tangismu membuatku sedih dan itu pertama kalinya kau ungkapkan kesedihanmu padaku saat mengatakan maaf tak bisa mendampingiku merawat cucu pertamamu, Fadhiil. dengan cara seperti ini, Allah mengajariku begitu berharganya jasamu ketika aku harus ditantang harus tetap menyusui,memandikan saat jahitan caesar masih sangat terasa nyeri, tetap harus terjaga saat fadhiil sakit panas bahkan hingga mengajarinya bernyanyi, menggambar, berhitung hingga berdoa.....*sulit* namun ketika anakku berhasil mengerti yang kuajarkan *tanpa baby sitter*...itulah gaji tertinggi yang kudapat...jauh jumlahnya melebihi gaji dosen yang selama ini kudapat....
ibu...terimakasih ya...tiada yang bisa membalas semua jasamu...doaku hanyalah engkau diberikan kesehatan lahir batin, bahagia dan tetap bisa mendampingi kami bertiga plus menantu dan cucu-cucu. aku sayang ibu

DIANGGAP SOK PINTAR SAAT MENJELASKAN MPASI HANYA UNTUK USIA 6 BULAN KE ATAS (0H GOD!!)

mata tak bisa terpejam
tiba tiba ingat peristiwa 2 tahun yang lalu
bayi usia 3 bulan diberi MPASI yg lumyan padat
TERKEJUT...*pasti*
TERGELITIK *akhirnya*
diberi penjelasan apa kelemahannya..mengapa tidak dianjurkan diberikan sebelum usia bayi mencapai 6 bulan *tet* tapi malah ada jawaban....*orng2 dulu juga begitu kok...gak apa2..sehat2 aja*
yah mereka hanya berpikir jangka pendek dengan harapan bayi nggak rewel lagi *padahal tangisan palsu* krn kenyang....*egois sekali* padahala bayinya hanya pengen diayun bukan MAKAN.
yah mudah2an satu saat nanti sadar bahwa itu merugikan bayi dlm jangka pendek/panjang....belum lagi bayi tak mendapatkan hak penuh ASInya hanya karena alasan sedikitlah, capeklah, repotlah.....mudah2an menjadi renungan....

Kamis, 23 Mei 2013

Tentang saya, menulis, dan IIDN


Menulis adalah hal yang telah saya geluti sejak duduk di sekolah Dasar. Berbagai kompetisi saya ikuti hingga di bangku kuliah namun masih saja terasa kurang. Saya hanya bisa belajar sendiri, mendapat ilmu dari guru atau dosen. Bergabung di suatu komunitas? pernah, bahkan sempat menjadi pimpinan redaksi sebuah penerbitan pun telah saya reguk. Namun tetap saja ada yang kurang. Setelah berada di dunia kerja selama tiga belas tahun, berkutat dengan karya-karya ilmiah, kerinduan saya akan dimuatnya tulisan saya di media makin menjadi. butuh teman share kepenulisan? Yah, disinilah di IIDN secara tidak sengaja saya dapat melepaskan kerinduan akan dunia kepenulisan yang sebenarnya. Ada kebanggaan tersendiri saat anak semata wayang saya akan membolak balik tabloid dan majalah yang baru tiba di rumah hanya untuk mencari nama saya. Tak hanya kepuasan yang saya dapatkan saat beberapa karya saya bisa dimuat di media namun, kebanggaan anak akan karya bundanya adalah hal yang sangat berharga. Saat  mendengar karya-karya bunda-bunda cantik di IIDN bisa dimuat di media, tetap belajar menulis melalui pelatihan online di IIDN, share online tentang kepenulisan bahkan kopdar di beberapa even yang diadakan IIDN membuat saya makin bersemangat untuk menulis di tengah-tengah kesibukan saya sebagai tenaga pendidik, istri dan sekaligus ibu.
Dengan menulis ada salah satu hal yang ternyata menjadi candu bagi saya dan bahkan mungkin juga ibu-ibu yang tergabung di IIDN. Candu terhadap apa? Yah candu untuk berbagi tentang hati, tentang apa yang kita alami, apa yang orang alami, yang kita lihat sehingga menjadi sebuah kalimat-kalimat yang berguna dan menjadi satu naskah yang bermanfaat menjadi terapi hati. Jadi menulislah, menulis dan tetap menulis. Menulis adalah obat hati.
Tak hanya sebagai obat hati, menulispun akan memperluas dan memanjangkan tali silaturahmi. Awalnya saya tak pernah tahu siapakah yang mempelopori IIDN. Perlahan melalui posting IIDN, Indari Mastuti lah yang berjasa mengajak ibu-ibu yang doyan nulis untuk bersatu dalam satu wadah.  Berkat kerjasamanya dengan si cantik nan lincah dan baik hati, Lygia Pecanduhujan sayapun tak hanya mendapatkan banyak ilmu dari IIDN namun saya juga menambah teman. Saya yang notabene pendatang baru di kota bandung  tak terlalu banyak memiliki teman-teman yang memiliki perhatian yang sama terhadap dunia yang saya geluti. Melalui IIDN-lah saya memiliki teman-teman  yang mempunyai  kesamaan perhatian, tak hanya teman-teman baru  yang berada di kota bandung tempat saya  bermukim namun tentunya teman-teman baru di seluruh Indonesia.
Happy Birthday IIDN….terimakasih mengantar impian bunda-bunda memiliki karya sendiri menjadi suatu kenyataan. Semoga di masa yang akan datang IIDN tak hanya mengajak ibu-ibu pintar menulis dan punya karya namun juga satu saat nanti dapat mencerdaskan anak-anak dari ibu-ibu pintar di IIDN. Semangat ya, ibu-ibu dalam berkarya.

Senin, 13 Mei 2013

Bagaimana Memuji Anak ?




Memuji anak bagi kita sebagai orangtuanya seringkali diberikan berlebihan. Lalu bagaimana seharusnya kita memberikan pujian pada anak? Sehingga pujian yang kita berikan kepada anak tidak kemudian membuat anak puas pada satu titik prestasi namun pujian tersebut seharusnya menumbuhkan self esteem pada anak.
Kesalahan apa sajakah yang mungkin sering kita lakukan kepada anak?
  1. memuji berlebihan.tak perlu mengatakan gambar anak anda bagus padahal banyak hal yang perlu diperbaiki. So Katakan Apa Adanya
  2. membandingkan prestasi anak dengan teman-temannya yang anda anggap lebih baik daripada anak anda sendirikarena langkah ini otomatis akan menjatuhkan rasa percaya diri anak karena merasa dipermalukan.
  3. tidak seimbang dalam memberikan reward and punishment, langkah ini akan membuat kesulitan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
  4. memberikan pujian yang terlalu sering sehingga anak akan mengalami kesulitan mengukur kelebihan kelebihan yang dimilikinya.

Lalu apa yang harus kita lakukan ?
Beri pendapat apa adanya.
berikan dorongan baik  saat  anak mengalami kegagalan ataupun keberhasilan

Makaroni schotel keju tengiri (Nakita 733/2013)

alhamdulillah dimuat di Nakita 733/2013....
 Sayangnya saya tidak mendapatkan bukti muatnya.


Makaroni schotel keju tengiri
Bahan :
100 gr makaroni elbow, direbus, sisihkan
5 butir telur , dikocok rata
100 gr ikan tengiri kukus yang sudah dicacah kasar, dipisahkan dari tulangnya
1 siung bawang bombay
2 buah wortel, dipotong dadu kecil
1 buah paprika merah
100gr keju cheddar, (50 gr dipotong dadu, 50 gr diparut kasar)
1 sdm margarin
2 sdm gula
4 sdm susu kental manis
Garam

Bahan saus :
8 sdm Sambal botolan
Setengah siung bawang bombay
50 gr kacang polong kalengan
Air secukupnya
2 sdm gula
1 sdm maizena yang dilarutkan dengan air


Cara :
  1. tumis bawang bombay dengan margarin sampai halus lalu masukkan , potongan wortel , paprika merah, tunggu sampai harum.
  2. Setelah tumisan harum, masukkan ikan tengiri kukus, matikan api kemudian masukkan makaroni yang sudah direbus,  potongan keju berbentuk dadu, gula dan garam secukupnya, susu kental dan telur yang telah dikocok. Aduk rata.
  3. Setelah teraduk rata, tuang  dalam loyang pirex ukuran 35 x 35 x 5cm. ratakan.
  4. hias bagian atas adonan dengan parutan keju dan sedikit potongan paprika
  5. Panaskan oven, panggang kurang lebih 45 menit

Saus :
  1. tumis bawang bombay dengan sedikit margarin sampai harum
  2. masukkan saus sambal botolan atau saus tomat apabila disajikan untuk balita
  3. beri sedikit air,  dan gula
  4. sebentar, masukkan kacang polong. Matikan api
  5. sajikan makaroni schotel keju tengiri dengan siraman saus kacang polong
 Sajian untuk 4 orang. Makanan ini sudah saya berikan sebagai MPASI saat anak saya masuk usia 9 bulan dan ia sangat menyukainya hingga saat ini. Membuatnya mudah dan yang paling penting ada kandungan gizi lengkap, yaitu karbohidrat, protein, sayuran dan susu